TEKNIK
DASAR
BERMAIN
SAXOPHONE
a. Embouchure
Kata embouchure berasal
dari bahasa Perancis yang artinya “mulut sungai”]. Di dalam teknik
bermain saxophone, embouchure menggambarkan formasi antara bibir, gigi, rahang,
dan otot-otot di sekitar mulut ketika udara ditiupkan melalui mouthpiece.
Secara alamiah, embouchure berakibat pada upaya untuk menghasilkan tone yang
baik dan kemampuan untuk mengendalikan saxophone dengan baik
Dalam praktek, terdapat beberapa
formasi embouchure yang sering digunakan oleh banyak saxophonist, namun penulis
hanya akan menguraikan salah satu formasi embouchure yang saat ini paling
banyak digunakan dan dapat menghasilkan kualitas suara dan tone yang baik. Berikut
ini adalah gambar dari formasi embouchure :

Gambar yang paling atas
menggambarkan embouchure yang kurang baik. Terlalu banyak bibir bagian bawah
yang menempel pada gigi, dan bibir bagian bawah terlalu banyak melipat ke dalam
mouthpiece. Pada formasi seperti ini sulit menghasilkan suara dan tone yang
lebih terang (bright), lebih bebas, dan lebih fleksibel. Sedangkan formasi
embouchure pada gambar yang paling bawah dapat menghasilkan suara dan tone yang
lebih terang, karena getaran reed yang dihasilkan dapat lebih bebas. Dari
gambar ini, reed tetap tersentuh oleh bibir bagian bawah, namun hanya sebagian
kecil bagian dari bibir bawah yang berada di antara mouthpiece dan gigi.
Bayangkan huruf “V” untuk mencari posisi bibir yang nyaman agar menghasilkan
tone yang baik.
Aspek
penting lainnya dari formasi embouchure ini adalah seberapa banyak bagian
mouthpiece yang masuk ke dalam mulut. Jika terlalu sedikit bagian mouthpiece
yang masuk ke dalam mulut, maka sound atau suara yang dihasilkan akan kecil dan
mengurangi kemampuan untuk mengontrol saxophone. Satu cara untuk mengetahui
apakah mouthpiece terlalu dalam masuk ke dalam mulut atau tidak adalah dengan
melihat mouthpiece dari samping dengan reed yang terpasang pada mouthpiece.
Perhatikan bahwa jarak antara reed dan mouthpiece (facing tip of the
mouthpiece) semakin menjauh. Titik pertemuan antara reed dan
mouthpiece yang akan berjarak itulah kira-kira posisi gigi bagian atas yang
menempel pada mouthpiece seharusnya diletakkan.
b. Tongue
(Tonguing à teknik lidah)
Teknik
lidah (tongue;tonguing) merupakan salah satu teknik dasar yang juga penting
dalam memainkan saxophone. Lidah digunakan untuk memberikan attack atau
aksen ketika mulai mengeluarkan udara melalui mouthpiece.
Terdapat
berbagai macam variasi tonguing, namun pada umumnya teknik
menggunakan tonguing adalah dengan menyentuhkan ujung lidah dengan ujung reed,
sembari mengucapkan ”dah” ketika ujung lidah menyentuh ujung reed.
c. Breathing (pernapasan)
Memainkan woodwind instrumen
seperti saxophone adalah sama seperti melakukan olah raga, kita harus sering
berlatih agar kemampuan memainkan wind istrument semakin baik sejalan dengan
semakin baiknya kondisi tubuh kita. Latihan pernapasan harus menjadi bagian
latihan rutin kita agar kemampuan untuk menguasai instrumen bertambah pula.
Pada kenyataannya, latihan
pernapasan yang rutin sangat banyak membantu kehidupan kita. Beberapa manfaat
penting latihan pernapasan bagi kehidupan manusia, diantaranya adalah :
·
Bermanfaat
bagi kesehatan manusia. Para ahli meyakini jika setiap manusia di dunia
mengambil napas dalam 10 hitungan yang lambat dan mengambil napas dalam-dalam
setiap hari, maka kita sudah bisa menghindari munculnya penyakit paru-paru di
bumi;
·
Menurut
aturan yoga, latihan mengambil napas dalam-dalam merupakan salah satu bentuk
meditasi. Dengan mengambil napas dalam-dalam secara teratur akan membantu
pikiran kita untuk fokus pada satu hal. Tentunya hal ini sangat membantu kita
dalam memainkan musik yang membutuhkan konsentrasi tinggi dan juga membantu kita
untuk mengatasi perasaan gugup ketika akan menghadapi suatu pementasan;
·
Selain
itu, terdapat juga manfaat secara spiritual. Dalam ajaran Islam dikenal
pengucapan Istighfar ketika kita sedang emosi atau tersadar dari khilaf. Ketika
kita mengucapkan Astaghfirullah al Azhiim (baik secara
singkat maupun yang lengkap), sebenarnya terjadi pengendalian ritme bernapas.
Napas menjadi lebih teratur, sehingga cairan adrenalin yang naik ketika emosi
(yang menyebabkan seseorang yang emosi menjadi sesak) dapat dikendalikan
kembali. Begitu juga ketika kita membaca ayat-ayat suci Al Qur’an, dalam setiap
memulai membaca kita mengambil napas lalu secara teratur napas kita keluarkan
bersamaan dengan pembacaan ayat-ayat suci di akhir kalimat. Contoh nyata kaitan
pernapasan dengan spiritualitas yang dialami seorang musisi adalah saxophonist
John Coltrane[2]. Pada periode akhir tahun
1950-an John Coltrane mengalami proses transformasi dari masa hard bop menuju
masa avant-guard style. Pada saat Coltrane mengalami masa hard bop, dia
mengeluarkan ide-ide yang lebih jauh dari yang pernah ada sebelumnya, pada masa
ini dia menghasilkan frase-frase improvisasi yang sangat panjang dengan akurasi
kecepatan yang sangat tinggi. Bagi saxophonist, upaya menghasilkan siklus
pernapasan (seperti yang dilakukan Coltrane) sangat mirip dengan latihan
pernapasan Prana dalam Hatha Yoga. Kemudian dari periode hard bop, Coltrane mengalami
transformasi menuju gaya permainan avant-guard yang hampir mengabaikan semua
kaidah-kaidah dalam musik jazz tradisional, dalam periode ini hampir semua
album yang dihasilkannya menggunakan pengendalian emosi pada tenor saxophone.
Semua album yang dihasilkan pada periode ini menggunakan tema-tema spiritual
dan berpuncak pada lahirnya album “A Love Supreme” yang menjadi album paling
berpengaruh pada perkembangan jazz dunia.
SUMBER : https://boykepriyoutomo.wordpress.com/saxophone-music-theory/teknik-dasar-bermain-saxophone/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar